Masa Pra
Sejarah
Asal mula
kata sejarah:
·
Kata sejarah
sendiri berasal dari bahasa Arab, yaitu syajaratun yang berarti
pohon.
·
Apabila kita
melihat pohon secara terbalik, kita dapat menghubungkannya dengan bentuk
penggambaran silsilah keluarga.
Pengertian
Sejarah:
·
Segala
sesuatu yang terjadi di masa lampau.
·
Suatu ilmu
yang mempelajari kejadian-kejadian/peristiwa yang terjadi pada masa lampau
dalam lingkungan kehidupan manusia, yang dipelajari melalui sumber dan bukti
sejarah baik tertulis, lisan, maupun benda-benda, dan peninggalan-peninggalan
bersejarah.
Pengertian
Zaman Prasejarah dan Zaman Sejarah:
·
Zaman
Prasejarah adalah zaman
sebelum manusia mengenal tulisan. Uraian mengenai kehidupan serta kebudayaan
manusia pada masa lampau sebelum ada bukti-bukti tertulis.
·
Zaman Sejarah adalah zaman ketika peninggalan tertulis
sudah ditemukan. Setiap daerah memasuki zaman Sejarah dalam waktu yang
berbeda-beda.
Pembagian
zaman pra sejarah:
A.
Arkeologi:
Ilmu kepurbakalaan yang mempelajari peninggalan-peninggalan sejarah purbakala
manusia purba berupa benda-benda budaya, artefak untuk menyusun kembali
(rekonstruksi) kehidupan manusia dan masyarakat purba.
- Zaman Batu
Zaman Batu terjadi sebelum logam dikenal dan
alat-alat kebudayaan terutama dibuat dari batu di samping kayu dan tulang.
Zaman batu ini diperiodisasi lagi menjadi 4 zaman, antara lain:
a.
Zaman Batu
Tua
Zaman batu
tua (palaeolitikum) disebut demikian sebab alat-alat batu buatan manusia
masih dikerjakan secara kasar, tidak diasah atau dipolis. Apabila dilihat dari
sudut mata pencariannya, periode ini disebut masa food gathering (mengumpulkan
makanan), manusianya masih hidup secara nomaden (berpindah-pindah) dan belum
tahu bercocok tanam.
Terdapat dua
kebudayaan yang merupakan patokan zaman ini, yaitu:
1.
Kebudayaan
Pacitan (Pithecanthropus)
2.
Kebudayaan
Ngandong, Blora (Homo Wajakinensis dan Homo Soloensis)
Alat-alat
yang dihasilkan antara lain: kapak genggam/perimbas (golongan
chopper/pemotong), Alat-alat dari tulang binatang atau tanduk rusa dan Flakes
dari batu Chalcedon (untuk mengupas makanan)
2.
Zaman Batu
Tengah
1. Ciri zaman
Mesolithikum:
a. Nomaden dan masih melakukan food
gathering (mengumpulkan makanan)
b. Alat-alat yang dihasilkan nyaris sama
dengan zaman palaeolithikum yakni masih merupakan alat-alat batu kasar.
c. Ditemukannya bukit-bukit kerang di
pinggir pantai yang disebut Kjoken Mondinger (sampah dapur)
c. Alat-alat zaman mesolithikum antara
lain: Kapak genggam (Pebble), Kapak pendek (hache Courte) Pipisan (batu-batu
penggiling) dan kapak-kapak dari batu kali yang dibelah.
d. Alat-alat diatas banyak ditemukan di
daerah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Flores.
e. Alat-alat kebudayaan Mesolithikum yang
ditemukan di gua Lawa Sampung, Jawa Timur yang disebut Abris Sous Roche antara
lain: Flakes (Alat serpih),ujung mata panah, pipisan, kapak persegi dan
alat-alat dari tulang.
2. Tiga
bagian penting kebudayaan Mesolithikum:
a. Pebble-Culture (alat kebudayaan kapak
genggam dari Kjoken Mondinger)
b. Bone-Culture (alat kebudayaan dari
Tulang)
c. Flakes Culture (kebudayaan alat serpih
dari Abris Saus Roche)
3. Manusia
pendukung kebudayaan Mesolithikum adalah bangsa Papua—Melanosoid
3.
Zaman Batu
Muda
Ciri utama
pada zaman batu Muda (neolithikum) adalah alat-alat batu buatan manusia sudah
diasah atau dipolis sehingga halus dan indah. Alat-alat yang dihasilkan antara
lain:
1.
Kapak
persegi, misalnya beliung, pacul, dan torah yang banyak terdapat di Sumatera,
Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi, Kalimantan,
2.
Kapak batu
(kapak persegi berleher) dari Minahasa,
3.
Perhiasan
(gelang dan kalung dari batu indah) ditemukan di Jawa,
4.
Pakaian dari
kulit kayu
5.
Tembikar
(periuk belaga) ditemukan di Sumatera, Jawa, Melolo (Sunda)
Manusia
pendukung Neolithikum adalah Austronesia (Austria), Austro-Asia
(Khamer-Indocina)
4.
Zaman Batu
Besar
Zaman ini
disebut juga sebagai zaman megalithikum. Hasil kebudayaan Megalithikum, antara
lain:
a.
Menhir:
·
Tugu batu
atau tiang batu yang terbuat dari batu tunggal dan ditempatkan pada suatu
tempat tertentu
·
Berfungsi
sebagai tempat pemujaan Roh nenek moyang dan tanda peringatan orang yang telah
meninggal dunia.
·
Ditemukan di
Sumatra, Sulawesi Tengah, Kalimantan.
- Dolmen:
·
Meja batu
tempat untuk meletakkan sesaji yang akan dipersembahkan kepada roh nenek
moyang.
·
Di bawah
dolmen biasanya terdapat kubur batu
·
Ditemukan di
Sumatra Barat, Sumbawa.
- Sarkofagus:
·
Peti jenazah
yang terbuat dari batu utuh (batu tunggal)
·
Sarkofagus
yang ditemukan di Bali sampai sekarang tetap dianggap keramat dan memiliki
kekuatan magis oleh masyarakat setempat
- Kubur batu:
·
Peti jenazah
yang terdiri dari lempengan batu pipih
·
Ditemukan di
daerah kuningan Jawa Barat
- Punden berundak:
·
Bangunan suci
tempat memuja roh nenek moyang yang dibuat dengan bentuk bertingkat-tingkat.
·
Ditemukan di
daerah Lebak Cibedug, Banten
- Waruga:
·
Kubur batu
yang berbentuk kubus dan terbuat dari batu utuh.
·
Ditemukan di
Sulawesi Tengah dan Utara
- Arca:
·
Patung yang
menggambarkan manusia maupun binatang
·
Binatang yang
dibuat arca antara lain kerbau, gajah, kera
·
Ditemukan di
Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur.
1.
Zaman Logam
Pada zaman Logam orang sudah dapat membuat
alat-alat dari logam di samping alat-alat dari batu. Orang sudah mengenal teknik melebur logam,
mencetaknya menjadi alat-alat yang diinginkan.
Teknik pembuatan alat logam ada dua macam, yaitu
dengan cetakan batu yang disebut bivalve dan dengan cetakan
tanah liat dan lilin yang disebut a cire perdue.
Kelebihan teknik bivalve dari a cire perdue adalah dapat
digunakan berkali-kali.
Periode ini juga disebut masa perundagian karena dalam
masyarakat timbul golongan undagi yang terampil melakukan pekerjaan tangan.
Zaman logam ini dibagi atas:
Zaman
Perunggu
Pada zaman perunggu atau yang disebut juga dengan
kebudayaan Dongson-Tonkin Cina (pusat kebudayaan) ini manusia purba
sudah dapat mencampur tembaga dengan timah dengan perbandingan 3 : 10
sehingga diperoleh logam yang lebih keras.
Alat-alat
perunggu pada zaman ini antara lain :
a.
Kapak Corong
(Kapak perunggu, termasuk golongan alat perkakas) ditemukan di
Sumatera Selatan, Jawa-Bali, Sulawesi,
Kepulauan Selayar, Irian
b.
Nekara
Perunggu (Moko) sejenis dandang yang digunakan sebagai maskawin.
Ditemukan di Sumatera, Jawa-Bali, Sumbawa,
Roti, Selayar, Leti
c.
Bejana
Perunggu ditemukan di Madura dan Sumatera.
d.
Arca Perunggu
ditemukan di Bang-kinang (Riau), Lumajang (Jawa Timur) dan Bogor (Jawa Barat)
Zaman Besi
Pada zaman ini orang sudah dapat melebur besi dari bijinya untuk dituang menjadi alat-alat
yang diperlukan. Teknik peleburan besi lebih sulit dari teknik peleburan
tembaga maupun perunggusebab melebur besi membutuhkan panas yang sangat
tinggi, yaitu ±3500 °C.
Alat-alat
besi yang dihasilkan antara lain:
a.
Mata Kapak
bertungkai kayu
b.
Mata Pisau
c.
Mata Sabit
d.
Mata Pedang
e.
Cangkul
Alat-alat
tersebut ditemukan di Gunung Kidul (Yogyakarta), Bogor (Jawa Barat), Besuki dan
Punung (Jawa Timur)
Zaman logam di Indonesia didominasi oleh alat-alat
dari perunggu sehingga zaman logam juga disebut zaman perunggu. Alat-alat besi
yang ditemukan pada zaman logam jumlahnya sedikit dan bentuknya seperti
alat-alat perunggu, sebab kebanyakan alat-alat besi, ditemukan pada zaman
sejarah.
Antara zaman neolitikum dan zaman logam telah
berkembang kebudayaan megalitikum, yaitu kebudayaan yang menggunakan media
batu-batu besar sebagai alatnya, bahkan puncak kebudayaan megalitikum justru
pada zaman logam.
Perkembangan zaman logam di Indonesia berbeda dengan
di Eropa, karena zaman logam di Eropa mengalami 3 fase/bagian, yaitu zaman
tembaga, zaman perunggu, dan zaman besi.
Di Indonesia khususnya dan Asia Tenggara umumnya tidak
mengalami zaman tembaga tetapi langsung memasuki zaman perunggu dan besi
secara bersamaan. Dan hasil temuan yang lebih dominan adalah alat-alat dari
perunggu sehingga zaman logam disebut juga dengan zaman perunggu.
B.
Pembagian
zaman berdasarkan Geologi:
Geologi: ilmu
yang mempelajari bumi secara keseluruhan. Berdasarkan geologi, terjadinya bumi
sampai sekarang dibagi ke dalam empat zaman. Zaman-zaman tersebut merupakan
periodisasi atau pembabakan prasejarah yang terdiri dari:
a.
Arkaekum/zaman
tertua Zaman ini berlangsung kira-kira 2500 juta tahun, pada saat itu kulit
bumi masih panas, sehingga tidak ada kehidupan.
b.
Paleozoikum /
zaman primer atau zaman hidup tua Zaman ini berlangsung 340 juta tahun. Makhluk
hidup yang muncul pada zaman ini seperti mikro organisme, ikan, ampibi, reptil
dan binatang yang tidak bertulang punggung.
c.
Mesozoikum/zaman
sekunder atau zaman hidup pertengahan Zaman ini berlangsung kira-kira 140 juta
tahun. Pada zaman pertengahan jenis reptil mencapai tingkat yang terbesar
sehingga pada zaman ini sering disebut juga dengan zaman reptil. Setelah
berakhirnya zaman sekunder ini, maka muncul kehidupan yang lain yaitu jenis
burung dan binatang menyusui yang masih rendah sekali tingkatannya. Sedangkan
jenis reptilnya mengalami kepunahan.
d.
Neozoikum/zaman
hidup baru Zaman ini dibedakan menjadi 2 zaman, yaitu:
1.
Tersier/zaman
ketiga Zaman ini berlangsung sekitar 60 juta tahun. Yang terpenting dari zaman
ini ditandai dengan berkembangnya jenis binatang menyusui seperti jenis
primata, contohnya kera.
2.
Kuartier/zaman
keempat Zaman ini ditandai dengan adanya kehidupan manusia sehingga merupakan
zaman terpenting. Dan zaman ini dibagi lagi menjadi dua zaman yaitu yang
disebut dengan zaman Pleistocen dan Holocen.
i.
Zaman
Pleitocen/Dilluvium berlangsung kira-kira 600.000 tahun yang ditandai dengan
adanya manusia purba.
ii.
Zaman
Holocen/Alluvium berlangsung kira-kira 20.000 tahun yang lalu dan terus
berkembang sampai dewasa ini. Pada zaman ini ditandai dengan munculnya manusia
jenis Homo Sapiens yang memiliki ciri-ciri seperti manusia sekarang.
Pembagian
Zaman Menurut Corak Kehidupan:
- Masa berburu dan mengumpulkan makanan (food gathering)
·
Kehidupan
manusia purba pada masa berburu selalu berpindah – pindah atau nomaden.
·
Karena selalu
mencari binatang buruan dan bahan makanan yang disediakan oleh alam berupa
binatang, Hal ini disebut dengan “food gathering”.
2.
Masa bercocok
tanam
o
Pada masa ini
manusia purba sudah mulai mengenal hidup menetap, sudah tidak bergantung pada
alam dengan cara mengolah tanah untuk bercocok tanam
o
Menunggu
hasil panen yang membutuhkan waktu tidak sebentar.
o
Meskipun
demikian kehidupan berburu dan meramu belum sepenuhnya ditinggalkan.
3.
Masa
pertukangan (perundagian)
·
Zaman
pertukangan manusia purba sudah mengenal teknologi walaupun masih sederhana,
yaitu teknik pengecoran logam seperti perunggu, besi, dan tembaga yang
menghasilkan alat-alat rumah tangga seperti: nekara, kapak perunggu, dan moko.
4.
Masa mengenal
kepercayaan:
·
Kepercayaan
yang berkembang pada masa pra aksara adalah animisme, dinamisme, dan totemisme.
Beberapa
peralatan yang penting dan banyak ditemukan, di antaranya:
a.
Kapak
perimbas tidak memiliki tangkai dan digunakan dengan cara menggenggam. Kapak
ini ditemukan hampir di daerah yang disebutkan di atas dan diperkirakan berasal
dari lapisan yang sama dengan kehidupan Pithecanthropus. Kapak jenis juga
ditemukan di beberapa negara Asia, seperti Myanmar, Vietnam, Thailand,
Malaysia, Pilipina sehingga sering dikelompokkan dalam kebudayaan
Bascon-Hoabin.
b.
Kapak penetak
memiliki bentuk yang hampir sama dengan kapak perimbas, tetapi lebih besar dan
kasar. Kapak ini digunakan untuk membelah kayu, pohon, dan bambu. Kapak ini
ditemukan hampir di seluruh wilayah Indonesia.
c.
Kapak
genggam. Kapak genggam memiliki bentuk yang hampir sama dengan kapak perimbas,
tetapi lebih kecil dan belum diasah. Kapak ini juga ditemukan hampir di seluruh
wilayah Indonesia. Cara menggunakan kapak ini adalah menggenggam bagian yang
kecil.
d.
Pahat genggam
memiliki bentuk lebih kecil dari kapak genggam. Menurut para ahli, pahat ini
dipergunakan untuk menggemburkan tanah. Alat ini digunakan untuk mencari
ubi-ubian yang dapat dimakan.
e.
Alat serpih
ini memiliki bentuk yang sederhana dan berdasarkan bentuknya alat diduga
sebagai pisau, gurdi, dan alat penusuk. Alat ini banyak ditemukan di gua-gua
dalam keadaan yang utuh. Di samping itu, alat ini juga ditemukan Sangiran (Jawa
Tengah), Cabbenge (Sulawesi Selatan), Maumere (Flores), dan Timor.
f.
Alat-alat
dari tulang berupa tulang-tulang binatang hasil buruan telah dimanfaatkan untuk
membuat alat seperti pisau, belati, mata tombak, mata panah, dan lain-lainnya.
Alat-alat ini banyak ditemukan di Ngandong dan Sampung (Ponorogo). Oleh karena
itu, pembuatan alat-alat ini sering disebut kebudayaan Sampung.
abris sous roche adalah tempat berupa gua-gua yang
menyerupai ceruk-ceruk di dalam batu karang yang cukup untuk memberikan
perlindungan dari hujan dan panas optimal hasil yang diharapkan.
kjokkenmoddinger adalah kulit-kulit siput
dan kerang yang dibuang itu selama ratusan atau ribuan tahun, menumpuk yang
akhirnya menjelma menjadi bukit kerang dengan ketinggian dan lebarnya beberapa
meter.
Jenis-Jenis
Manusia Purba di Indonesia:
MEGANTHROPUS PALAEOJAVANICUS
- Meganthropus
Palaeojavanicus
Ditemukan oleh G.H.R. Von Koeningswald tahun 1946 dan 1941 di Sangiran (Surakarta).
·
Fosil berupa
rahang bawah dan rahang atas.
·
Diperkirakan
sebagai manusia purba paling tua.
·
Hidup sekitar
2 juta – 1 juta tahun yang lalu.
·
Disebut
sebagai manusia purba tertua di Pulau Jawa
Ciri –ciri :
·
tubuh kekear
·
rahang dan
geraham besar
·
tidak berdagu
·
menyerupai
kera
2.
Pithecantropus
Mojokertensis
·
Ditemukan
tahun 1936 di Mojokerto Jawa Timur.
·
Fosil berupa
tengkorak anak.
·
Masih
tergolong jenis Pithecanthropus.
Ciri-ciri :
a.
badan tegak
b.
tidak
memiliki dagu
c.
bentuk kening
menonjol
d.
tinggi badan
165 – 180 cm
e.
volume otak
750 – 1.300 cc
f.
tulang rahang
dan geraham cukup kuat
g.
tulang
tengkorak cukup tebal
h.
bentuk
tengkorak lonjong
3.
Pithecanthropus
Erectus
·
Ditemukan
oelh Eugene Dubois tahun 1890 di daerah Trinil (dekat sungai Bengawan Solo)
·
Pithe artinya
kera, anthropus artinya manusia, erectus artinya tegak
·
Pithecanthropus
erectus artinya manusia kera berjalan tegak.
Ciri-ciri :
a.
berbadan dan
berjalan tegak
b.
tinggi badan
165 – 170 cm
c.
diperkirakan
hidup sekitar 1 juta tahun yang lalu.
Jenis-jenis
manusia purba di Indonesia:
|
Zaman
|
Nama manusia purba
|
Penemu
|
Tahun
|
Tempat
|
|
Pleistosen
Tengah
|
Meganthropus
paleojavanicus
|
Von
Koenigswald
|
1941
|
Sangiran
|
|
Pleistosen
Tengah
|
Pithecanthropus
erectus
|
Eugene
Dubois
|
1890
|
Trinil,
Ngawi
|
|
Pleistosen
akhir
|
Homo
sapiens soloensis
|
Von
Koenigswald
|
1931
|
Bengawan
Solo
|
|
Pleistosen
akhir
|
Homo
sapiens wajakensis
|
Von
Reitschoten
|
1936
|
Wajak,
Tulung Agung
|
|
Pleistosen
awal
|
Homo
mojokertensis
|
Von
Koenigswald
|
1936
|
Mojokerto
|
Asal mula
nenek moyang Bangsa Indonesia:
Sejak zaman prasejarah sudah terjadi perpindahan
penduduk/ migrasi. Menurut Kern dan Heine Geldern sejak zaman batu terutama
zaman neolithikum hingga zaman perunggu teleh terjadi migrasi besar dari
daratan Asia ke berbagai kepulauan di selatan (Austronesia).
Perpindahan tersebut berasal dari Yunan di lembah
Sungai Mekong (Cina) dan lembah Salwen (India). Dari daerah inilah nenek moyang
bangsa Indonesia dapat dibedakan menjadi 2 gelombang.
Berdasarkan penelitian para ahli purbakala, nenek
moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunan (Cina). Mereka datang ke Indonesia
dalam dua kelompok besar, yaitu bangsa Proto Melayu dan Deutro Melayu.
a.
Bangsa Proto
Melayu (Melayu tua):
Bangsa Melayu tua adalah rumpun bangsa
Austronesia yang datang sekitar tahun 2000 SM, dengan melalui dua jalur:
1.
Jalur utara
dan timur melalui Teluk Tonkin, Taiwan/Formosa, Filipina, Sulawesi, dan Maluku dengan
membawa kapak lonjong.
2.
Jalur Barat
dan selatan dengan melalui Malaka, Sumatera, Jawa, dan Nusa Tenggara.
Kedatangan bangsa Melayu Tua dengan membawa kebudayaan kapak persegi
b.
Bangsa Melayu
Muda atau Deutro Melayu datang ke Indonesia sekitar tahun 500 SM melalui jalur
Barat yaitu teluk Tonkin, Vietnam, Thailand, Semenanjung Malaka, Sumatera, dan
Jawa. Mereka datang membawa kebudayaan perunggu/dongson dan besi serta
kebudayaan batu besar. Suku bangsa yang merupakan keturunan bangsa Deutro
Melayu adalah suku bangsa Jawa, Bali, Madura, dan Banjar.
No comments:
Post a Comment